Daftar Blog Saya

Sabtu, 07 Januari 2012

Epilog Sastra

Sastra adalah bagian dari banyak hal yang tersingkirkan dan terpinggirkan di Indonesia, setelah mencapai 80 tahun sumpah pemuda dan 100 tahun kebangkitan nasional. jangankan predikat ilmu pengetahuan, sebagaimana yang disinggung oleh seorang sastrawan Perancia dalam rembukan sastra antar sastrawan Indonesia-Perancia di Bentara Budaya sebelum reformasi, "kelengenan" yang sudah di tentang oleh Rendra pun, seperti bukan hak sastra Indonesia.

Sastra telah terposisikan sebagai suatu yang aneh dan tak berguna. bahkan sama sekali tidak memikat, menghibur, apalagi memberi masukan, tidak seperti halnya Ayat-ayat cinta atau Laskar Pelangi.

Di tahun 1960an, sastra masih menjadi mata pelajaran wajib yang diuji akhir, digeluti juga oleh para pelajar SMA bagian B (pasti-alam) dan C (ekonomi). tetapi, kini sastra hanya menjadi penumpang gelap dalam pelajaran bahasa Idonesia. guru-gurunya sendiri yang cabutan dari disiplin lain, tak tahu apa yang harus diajarkan.

Yang dikaji dari sasatra umumnya sekita tahun kelahiran dan kematian pengarang. apa persyaratan soneta, pantun dan gurindam menjadi topik tetap. tak heran bila sastra hanya menjadi teks hafalan yang tidak ada kaitannya dengan kehidupan nyata. apalagi ilmu-ilmu lain yang hendak dilahap pelajar untuk menjadi manusia yang siap pakai.